Aa Ebit Bupati Garut 2018
CV Hotel di Garut HdG Team Trip Planner & Event Organizer Alamat : Jambansari Rt. 004 Rw. 004 Alun-alun Bayongbong – Garut No. Telepon Kantor : (0262) 2802539 Email : hoteldigarut2@gmail.com ota@hdgteam.com Reservation Whatsapp : 089660271603 ; 082217300224 08192288626 ; 081320405837

“para calon kepala daerah di Jawa Barat ( Bupati / Gubernur) pintar-pintar, kaya-kaya, dan nanti punya kewenangan, Bisakah mengurusi Air?”

Jawa Barat adalah sebuah kawasan yang mempunyai julukan parahyangan, parahyangan secara etimologi berdasar dari dua suku kata dasar Ra (Cahaya) Hyang (sesuatu yang agung/tuhan), awalan pa dan akhiran an mungkin lebih menunjukan kata wilayah/tempat, saya memaknai Parahiyangan sebagai kawasan suci dan agung.

Penempatan kawasan Parahiyangan sebagai kawasan strategis dunia yang pada masa’nya dianggap sakral/larangan pada tata wilayah dunia bukan hanya berdasar pada mitos-mitos dan sesuatu yang dianggap tahayul, tapi dapat kita kaji dari sisi geologi, ecologi dan ilmu pengetahuan lainnya yang akan memberikan pembenaran seberapa penting peran Jawa Barat bagi keseimbangan dunia.

Kata parahyangan selanjutnya dapat dijadikan rujukan atau bahan kajian yang lebih menekankan pada sebuah sistem keyakinan/spiritual yang tumbuh dan berkembang di Jawa Barat dan menjadi pusat spiritualisme dunia pada suatu zaman.

Selain parahyangan kata padjajaran adalah sebuah nama/kata yang lekat dengan Jawa Barat dan memiliki makna luar biasa, bagi saya Padjajaran tidak sebatas nama kerajaan yang populer selama ini, Padjajaran adalah sistem kenegaraan yang unik dan original, sebuah tata negara yang terdiri dari negara-negara kecil yang terikat secara kuat dalam menjalankan pengabdian, pengabdian kepada Alam, sesama manusia dan sang pencipta, berdasar tugas dan pungsi masing-masing dalam perannya di dunia, sebuah hubungan yang tidak tercipta dari penundukan/penaklukan dan otoritas satu kerajaan yang kuat ke kerajaan lainnya yang lemah, atau hubungan sub-ordinat raja kepada rakyatnya, tapi hubungan yang egaliter sesama individu dan komunitas yang waktu itu tumbuh dan berkembang.

Dalam menentukan kepemimpinan tidak lahir dari pertentangan kelas atau saling beradu kekuatan, namun dilahirkan berdasar wilayah/kawasan sebuah negara, dimana negara itu berada diwilayah yang sudah seharusnya memiliki tanggung jawab dalam memimpin, kemudian sosok manusia dari negara tersebut mengkonsolidasi antar negara secara harmonis  kemudian diangkat menjadi prabu/raja dan diberikan gelar siliwangi, dari kata silihwangi kita tentu mengerti bahwa gelar itu diberikan bukan karena kesaktian ilmu perangnya, bukan pula dari harta kekayaan, atau dia diangga representasi tuhan/dewa, tapi gelar silihwangi itu mencerminkan integritas pribadi seorang manusia yang memiliki prilaku baik/ahlak mulya yang mempu menebar kebaikan dan menjalin keharmonisan antar sesama manusia dan negara-negara yang terhimpun dalam kerangka Padjajaran.

Silihwangi selain sebagai gelar prabu/raja tetapi adalah sebuah cermin hubungan sosial masyarakat Jawa Barat yang saling mengangkat derajat satu sama lain, ditambah dengan terdapatnya istilah “silih asah, silih asuh dan silih asih” tentu kata-kata yang tidak sderhana untuk diterjemaahkan dalam bahasa indonesia, tapi kurang lebih makna yang tersiratnya adalah “silih asah” lebih pada saling mengajari dalam hal ilmu pengetahuan dan keterampilan antar manusia, “silih asuh” saling menjaga dan saling perhatian, “silih asih” saling menyayangi.

Dan Inilah sebuah gambaran adanya hubungan sosial yang sehat dengan menjungjung tinggi kesetaraan, dimana tidak ada dominasi satu manusia kepada manusia lain,  tidak ada eksploitasi dari satu kelompok kepada kelompok lain, semua manusia dihargai exsistensi nya secara utuh dalam perannya masing-masing didunia, bukan berdasar kasta dan kelas sosial yang menindas.

Aspek spiritual, aspek politik dan hubungan-hubungan sosial tersebut beridiri kokoh diatas kondisi hubungan ekonomi yang sehat, sebuah negeri yang subur makmur gemah ripah lohjinawi, sepi maling lowong rampog” dengan ditopang keadaan alam yang sangat ideal, dimana mata hari hadir setiap selama 12 jam, udara segar dengan kadar oksigen tinggi, air mengalir jernih dengan kadar mineral yang tinggi, tanah sangat subur serta memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi.

Gambaran aspek masyarakat Jawa Barat yang saya kedepankan bukan sekedar untuk meromantisir masa lalu, tapi juga untuk mengingatkan kita bahwa sebelum di temukan sejarah dunia modern, kita bukanlah sebuah masyarakat primitif, kita bukanlah para penyembah berhala, kita tidak sempat mengalami fase zahilyah, kita bukan lah orang yang hidup di goa-goa kemudian saling memakan satu sama lainnya.

Kita adalah bangsa beradab, adapun kesederhanaan dalam menjalani hidup tidak didasarkan karena kemiskinan dan ketidakmampuan tapi merupakan sikap dan pilihan hidup yang lahir dari keyakinan/spiritual.

Jawa Barat DaruratKerusakan alam semakin terlihat jelas, banjir, longsor, banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung adalah bencana yang setiap tahun terjadi di berbagai wilayah dari mulai pusat kota sampai wilayah pedesaan diberbagai kabupaten di Jawa barat.

Ini tentunya tidak terlepas dari tata kelola alam yang buruk, hubungan-hubungan yang tidak baik antar manusia dan lingkungan, dan ini lambang dari ketidak beresan, dari mulai kebijakan negara sebagai institusi yang paling besar, prilaku para pengusaha/industri, dan masyarakat itu sendiri.

Tentunya pengelolaan alam yang tidak baik disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat kompleks dan terjadi dalam kurun waktu yang sudah lama. Ada banyak hal lain yang dapat kita lihat selain kerusakan lingkungan hidup yang semakin parah saat ini, kita dapat menyaksikan dan merasakan situasi sosial yang tidak sehat, kenakalan remaja, angka kriminalitas yang terus meningkat, maraknya LGBT, narkoba, prostitusi dan penyakit sosial lainnya yang saat ini seolah semakin sulit untuk mengendalikaannya.Dari  sekian banyak penomena yang terjadi, kita dapat merasakan betapa tingkat kenyamanan kehidupan di Jawa Barat semakin menurun, kekurangan air/kekeringan, sampah, pencemaran, polusi udara, wabah penyakit, kemacetan, bencana-bencana, saling curiga antar warga, dan teror-teror lain yang membuat masyarakat semakin takut dan beringas.

Ada banyak pihak yang menyimpulkan penyebab utama kerusakan tatanan kehidupan di Jawa Barat dimulai dari degradasi moral/akhlak, ada juga yang menilai mengenai kegagalan kebijakan negara dalam menata kelola seluruh aspek sumber-sumber kehidupan, adanya pemaksaan industri/modal yang mengeksploitasi seluruh sumberdaya Jawa barat yang terjadi sejak datangnya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) sampai sekarang, yang paling populer sekarang mengenai rusaknya tatanan kehidupan di Jawa Barat  adalah mengenai adat istiadat yang sudah ditinggalkan. Dari sekian banyak analisa mengenai penyebab rusaknya tatanan kehidupan di Jawa Barat tersebut, bisa jadi kesimpulan yang satu erat kaitannya dengan kesimpulan lain, dan bahkan mungkin tidak dapat dipisahkan.

Menjaga Air sebagai ikhtiar memulihkan tata kehidupan di Jawa Barat sebaiknya kita tidak berdebat panjang harus memulai dari mana ?, peningkatan kesejahteraan, perbaikan tatakelola pemerintah, perbaikan akhlak/moral, kembali ke adat istiadat/budaya. Kita mulai saja dari apa yang kita bisa, sesuai kemampuan dan peran hidup dalam kehidupan ini, tapi tentu setiap profesi atau individu mempunyai dampak yang berbeda.

Sekarang saya sedang ingin berharap gubernur dan bupati terpilih pada pilkada serentak 2018 bersungguh-sungguh untuk melakukan perbaikan krisis yang sedang terjadi, apabila saya boleh menyarankan calon gubernur dan bupati yang sudah yakin dan tidak yakin dilantik menjadikan “air” sebagai inti dari visi-misi atau program kerja yang akan dilaksanakan, memulihkan dan menjaga keutuhan air secara kuantitas/debit dan kwalitas/kejernihan mulai dari sumber, sampai ke muara sungai dan laut.Memulihkan dan menjaga air tentunya tidak terlepas dari tempat dimana air itu mengalir dan di manfaatkan oleh manusia, menjaga kawasan resapan di gunung-gunung dan hutan, menjaga keberadaan sumber air baik yang berada hutan maupun di perkampungan penduduk, menjaga jejaring air (sungai) dari sungai besar (inti) sampai aliran terkecil, menjaga muhara sungai dan sempadan pantai.

Menjaga dan memulihkan kawasan resapan air dengan cara membiarkan pohon tumbuh secara alami pada kawasan yang telah rusak, menjaga keutuhan keanekaragaman hayati bagi kawasan yang belum terganggu, dengan menentukan batas yang tegas antara kawasan resapan dan garapan manusia. Dalam menjaga dan memulihkan sumber air selain perlindungan terhadap kawasan sumber air tersebut perlu juga menjaga aliran air bawah tanah, agar tidak terganggu dan tercemar.

Menjaga keutuhan sempadan sungai, menjaga sungai dari pencemaran dan sampah, serta menjaga keutuhan hutan-hutan di muara dan sempadan pesisir. Konsep pembangunan para calon Gubernur dan Bupati sebaiknya diawali dan diarahkan untuk upaya pemulihan air yang kini sudah sangat rusak, mungkin langkah pertama dilakukan kajian dan revisi ulang mengenai tata wilayah dan peruntukan ruang di Jawa Barat dan tiap Kabupaten, pemetaan dan penyusunan rancangan umum tata ruang dan tata wilayah berdasarkan daerah aliran sungai (DAS), setelah itu kemudian ditindak lanjuti dengan penegakan hukum dan merubah pola, orientasi pembangunan ekonomi, sosial, politik dan budaya.Saran dalam tanggap darurat penyelamatan air dalam waktu janga pendek adalah :

  1. Mengupayakan peningkatkan status perlindungan bagi kawasan strategis perlindungan air.
  2. Mengupayakan memberikan lahan-lahan dan kawasan yang strategis untuk pertanian/perkebunan yang sekarang dikuasai BUMN (perkebunan/perhutani) kepada masyarakat agar tidak menganggu kawasan strategis perlindungan air.
  3. Memindahkan pusat pertumbuhan, keramaian, industri, pendidikan, pemerintahan, perumahan ke wilayah dataran rendah dengan cara membangun kota-kota pesisir.

Seperti itu aja dulu harapan dari saya kepada para calon Gubernur dan Bupati pada pilkada serentak 2018, “karena air adalah simbol beradaban, jika kita ingin tau peradaban apa yang sedang berkembang, maka lihatlah kualitas air yang mengalir di sungai”  jika air nya kiruh maka ada sebuah peradaban yang kiruh juga.

Calon Kepala Daerah Jawa Barat

Penulis :

Aa Ebit Highlander, seorang yang sedang terburu buru menyelesaikan tulisannya.

KOMENTAR