Tokoh yang ingin jadi Bupati  Garut banyak yang memahami kedudukan Bupati  Kabupaten Garut hanya sebagai posisi yang berkuasa terhadap uang dan orang.  Kekuasaan dengan  banyak anak buah, fasilitas lengkap, dihormati di lingkungan pergaulan dan di lingkungan resmi pemerintahan.

Bupati juga eksis dan popular karena  potonya dipasang di seluruh gedung sekolah kebutuhan aktualisasi dan puncak ke aku-an yang legal.  Mereka belajar melihat kenyataan dari Bupati dan wakil bupati garut saat ini yang tidak cukup puas dengan photo yang tersebar di 1500 sekolah dasar dan seluruh kantor pemerintahan, masih juga harus memajang photonya besar-besar di baligo-baligo ukuran besar di jalan-jalan utama yang semrawut.

Ruang publik kemudian menjadi ruang pamer wajah pimpinan daaerah dan iklan produk kapitalisme global. Tokoh yang ingin jadi bupati  Garut banyak yang memahami kedudukan bupati  Garut hanya sebagai posisi yang berkuasa terhadap uang dan orang.  Kekuasaan dengan  banyak anak buah, fasilitas lengkap, dihormati di lingkungan pergaulan dan di lingkungan resmi pemerintahan.

Bupati juga eksis dan popular karena  potonya dipasang di seluruh gedung sekolah kebutuhan aktualisasi dan puncak ke aku-an yang legal.  Mereka belajar melihat kenyataan dari Bupati dan wakil bupati garut saat ini yang tidak cukup puas dengan photo yang tersebar di 1500 sekolah dasar dan seluruh kantor pemerintahan, masih juga harus memajang photonya besar-besar di baligo-baligo ukuran besar di jalan-jalan utama yang semrawut.  Ruang publik kemudian menjadi ruang pamer wajah pimpinan daaerah dan iklan produk kapitalisme global.

Kekuasaan telah ditakdirkan sangat menarik, karena itu artinya adalah kebanggaan keluarga besar. Menjadi buah bibir teman dan saudara sekampung, disenengin dan dihormati temen SD, temen SMP, temen kuliah, dan teman-temen masa perjuangan.   Bagi para lelaki mungkin juga ada kepuasan melihat “penyesalan mantan”…..  Jabatan Bupati Garut mungkin juga seperti es campur air paling lezat di jalan pahlawan bagi orang yang haus kekuasaan, orkestra bagi yang rindu panggung, juga obat mujarab bagi pribadi yang kekurangan eksistensi masa lalu.  Demikian pentingnya kekuasaan maka kekuasaan harus diperjuangkan dan direbut untuk sebuah eksistensi dan tujuan: tujuan apakah itu?Entahlah!

Ibarat gadis teramat seksi, maka mereka yang ingin jadi bupati Garut adalah para ksatria Cibatu, Wanaraja, Pameungpeuk, Tarogong, Cikajang, Leles yang siap berlaga mempersunting sang gadis cantik bak bidadari.  Sayang beberapa kecamatan seperti cihurip kesatrianya memilih banyak bertapa.

Ibaratnya kentut kekuasaan  saja wangi apalagi harum bau tubuhnya semerbak bunga-bunga. Kalau dulu perebutan gadis cantik nan penuh pesona pada sayembara kerajaan ditentukan oleh kemampuan olah kanuragan (fisik bertarung) secara pribadi, dan yang terkuatlah yang termenang, sekarang pertarungannya sudah makin kompleks.

Pedang pertarungan adalah uang-uang yang dibagikan untuk konsolidasi dan suap,  jurus-jurus adalah strategi pembusukan dan manipulasi. Pakaian kebesaran bukan lagi sutra dan gelang-gelang yang menjadi khas pendekar,  kini  berubah menjadi costum pencitraan yang dikemas dalam berbagai media bernama baligo, pamplet, twiter, website, instagram, dan facebook.

Peperangan dimulai, untuk sebuah gadis cantik bernama kekuasaan bukan untuk sebuah nilai-nilai kehidupan, bukan untuk menjawab kegelisahan dan kesedihan,  juga bukan untuk mengejar ketertinggalan daerah dari negara-negara di eropa, amerika, jepang dan korea selatan.  Perang pilkada  juga bukan untuk pengabdian, kecuali mengabdi untuk dirinya sendiri.

Akal paling sehat akan bertanya tentang teori kemungkinan: Bagaimana membangun nilai-nilai jika dalam memperjuangkan kekuasaan pun jauh dari nilai kejujuran, karena dapat bendera saja harus nyuap?. Bagaimana kekuasaan akan menjawab kegelisahan sosial jika kehidupannya selama ini tak peduli dengan kemiskinan dan penderitaan.  Bagaimana jiwanya hidup jika sibuk dalam zona mapan, elitis, dan ponggah!

Kita akan mendengar teriakan kejujuran dari mereka yang hatinya sedang bohong, ajakan “mari berantas korupsi“ dari tokoh yang sedang  berfikir dapat berapa dari komisi proyek dan mutasi. “Kita bangun Garut” katanya sambil dalam pikirannya kalkulasi berapa pengeluaran dan pendapatan.  “Reformasi birokrasi harus kita mulai!”, walau pun belum tahu juga masalah birokrasi itu apa sesungguhnya!.

Warga garut sebentar lagi akan menyaksikan  orang-orang dusta ketika masuk ke panggung segera menjadi tokoh kejujuran, disana sini dipuji, dibanggakan dan disebut pembawa perubahan.  Sebagian cerita kisah hidup dan visi (yang dibuatkan tim itu) disebar lewat media sosial sehingga banyak orang jatuh cinta, beberapa saling berdebat saling membela, saling mencaci, untuk sebuah citra virtual sang tokoh pujuaan calon bupati, dukungan bagi para calon pemimpin yang juga tidak pernah kita tahu sungguh sungguh isi hati dan isi kepalanya.

Oh ya, mari abai pada realitas menggelikan sebuah kelucuan kolektif bernama “demokrasi”.  Kita perlu mengurangi derajat ketragisan nilai, motif dan basa basi demokrasi.  Kita dapat sedikit berharap dari kapasitas para calon pemimpin kita.

Kita bisa tanya tentang masalah pendidikan, apakah masalah pendidikan di kita, bagaimana mengatasi masalah keterbatasan guru, masalah siswa yang kurang kreatif dan kurang mandiri, sarana prasarana yang kekuarangan, kompetensi rendah, kurikulum yang tidak realistik, dan iklim belajar yang kurang baik?

Lalu sebuah pertanyaan mendasar kita sodorkan, “apa inovasi saudara calon bupati untuk masalah tersebut, dan bagaimana anda tahu bahwa anda akan berhasil???” tentu pertanyaannya kita lengkapi dengan pertanyaan lain  terkait infrastruktur, terkait kesehatan, terkait mutu lingkungan, atau terkait juga dengan pengembangan ekonomi masyarakat, apakah berbasis pertanian apakah berbasis industri, dan juga strategi ecommerce?

Jangan-jangan kita akan dapati Balon bupati planga plongo.  Planga plongo dan “gagap” menjawab pertanyaan sederhana sekali. Jawaban yang diberikan banyak yang mirip dengan materi guru PPKN di sekolah dasar, sangat umum, bercerita konsep dan belum masuk pada jawaban yang jelas lugas dan dapat diperdebatkan.

Jawaban planga plongo yang sering ditemui dalam berbagai diskusi andalah sebagai berikut, ini dia diantaranya:

  • “Pendidikan menurut saya penting, dan saya justru terpanggil menjadi bupati untuk menyelesaikan masalah yang anda sebutkan tadi”
  • “Kita akan mulai dari pembenahan SDM karena SDM itu sangat penting bagi perkembangan sebuah bangsa, kita akan lihat pendidikannya harus lebih bermutu”-
  • “Kita akan benahi lingkungan agar tidak menimbulkan banjir, kita malu masa sebagai daerah dataran tinggi tapi banjir itukan membuat marwah kita rendah”
  • “Kalau saya jadi bupati saya akan perhatikan UKM agar dapat berkembang, jangan sampai kalah oleh pendatang, kita kan harus jadi tuan rumah di kampung sendiri, gimana hadirin setuju?”
  • “Menurut saya yang penting itu reformasi birokrasi, kita tahu ada banyak keluhan tentang birokrasi kita, ada jual beli jabatan dan lain sebagainya, nanti kalau saya jadi bupati akan ditertibkan, takbiiiirrrr!”

Jawaban di atas sekalipun tampak keren dapat dikategorikan sebagai jawaban “planga plongo”, karena jawaban ini hanya bercerita hal-hal umum, tidak punya pembeda, semua orang juga tahu, tidak spesifik, dan tidak tajam menukik.  Itu semua mengindikasikan bahwa penguasaan  masalah dan idea mereka  yang rendah.

Lalu “apa jawaban yang tidak planga plongo?” tentu banyak sekali jika mereka pernah gelisah, sering sedih hatinya dan suka mencari tahu.   Silahkan tanya calon dan balon bupati yang ada kagumi, jika jawabannya mirip dengan tulisan ini, berarti plaga plongo dan sebaiknya anda cari calon lain, kecuali kalau calon itu adik anda, saudara anda, atau mertua anda, tetaplah dukung dengan sedikit pencerahan, biar garut amazing prestasinya jangan amazing masalahnya!

Blora, 30 september 2017

Aa Subandoyo

KOMENTAR